sajak rabu pagi

dan seseorang bicara padaku lewat temboktembok kecil dan putih. aku masih di kamar dengan setengah gelas kopi yang kehilangan rasa. di luar, angin biasa saja. penuh cahaya matahari, cericit burung dan hangat yang menggoda.

hanya di sini, di bilik jantungku. degup yng tak beraturan menjadi pengantar untuk sebuah tango dari badai yang tak bisa usai. dan maafkan aku, aku tak bisa tak membenci almanak di dinding yang hanya faham menghitung kedatangan dan kepergian.

nafas dan suaramu masih di sini. tentu dengan tawa kanakkanakmu memintaku menghitung jemari hujan
sambil menyelipkan gambar kecil berisi kecupan.

ah, rabu pagi ini. masih bersama setengah gelas kopi menunggu hujan.sungguh aku inginmenghitung jemarinya...



wawan mattaliu @ mgh, 29 sep 2010

No comments:

Post a Comment