sajak yang bergegas

siang begitu gegas menanakku
bersama sebuah sepi yg melepuh dari rindu yang ranum
di luar angin september meraungkan luka
dan kerontang daunan jati gemeretak di benakku
benarkah siapa saja punya hak membawa belati
membenamkannya pada jantung siapa saja di malam hari?
Rumi pun berkisah;
Rindu bukanlah sepenuhnya jatuh cinta.
Rindu juga belati bermata dua
terhunus pelan seperti nafasmu.



Siang dan angin september
melilitku sempurna dalam rindu yang berbelati
entah bermata berapa

Rumi! Sungguh aku tertawan dalam rindu yang berpalung
dan kalau aku berkata;
aku jatuh cinta
kau mau bilang apa?



wawan mattaliu, mannaungi 2010

No comments:

Post a Comment