memoar yang tak usai

aku terpekur, cermin tak bicara apa-apa, kecuali angin banal yang merayurayu perih..
ternyata....
aku bukan lelaki seperti sangkaan sajak rumi, juga bukan lelaki dari tibet yang menundukkan angin...
tak kutemukan lagi tafsir dari kitab-kitab besar,
kitab-kitab yang melipat perang badar sampai ke mahabharata.
aku terpekur, sungguh!
dan bicara padamu dengan suara yang terburai
semacam percik hujan desember; "masalalu menawanku dengan luka yang perih dan gurih,"
dan kupinjam sajakmu kawan, tentang setangkai bunga dan batu nisan...
untuk gulingku pada tidur yg gelisah malam ini..
kalau aku lelaki ... siapa yang bisa melarangku menangis

wawan mattaliu

No comments:

Post a Comment